Yang tersingkir, Dia yang menyelamatkanHakim 11:1-10 Mungkin anda pernah mendengar orang yang disingkirkan, diusir ataupun dikucilkan. Tentu banyak faktor penyebab, mengapa sesorang tersebut disingkirkan, diusir dan dikucilkan. Ada faktor kesalahan/kejahatan, faktor iri hati/dengki, faktor curiga, karena latarbelakang dan sebagainya. Jika karena kesalahan/kejahatan sesorang itu disingkirkan/dikucilkan/diusir, tentu hal ini, menurut saya adalah hal yang wajar-wajar saja! Tetapi, bagaimana jika seseorang itu disingkirkan, diusir dan dikucilkan, yang walaupun tidak melakukan kejahatan/kesalahan sekalipun? Tentu hal ini menjadi persaoalan utama, bagi mereka atau kita yang masih berfikiran normal. Yefta, merupakan salah seorang yang mengalami pengalaman pahit tersebut. Dia tidak melakukan kesalahan, tidak melakukan tindakan amoral, namun dia diusir, dikucilkan dan disingkirkan karena latarbelakangnya. Alasannya, cukup sangat sederhana, karena “ia anak seorang perempuan sundal/the son of a prostitute (ay.1).” Sungguh sangat ironis, orangtua yang berkarya, anak yang lahir yang kena getahnya. Kejahatan atau tindakan diluar kaidah yang dilakukan oleh orangtuanya Yefta, yang menanggung akibatnya adalah Yefta sendiri. Dengan terus terang saja, bukan Yefta yang berbuat, namun mengapa jadi Yefta yang kena getahya. Atau apakah layak, para ayah yang makan buah mentah, sehingga gigi anak-anaknya menjadi ngilu? (Yer 31:29; Yeh 18:2). Tentu, jika kita berakal sehat, kita pasti setuju dengan pemahaman nabi Yeremia dan Yehezkiel, orang yang memakan buah mentah, tentu giginya sendiri yang menjadi ngilu! (Yer 31:30; Yeh 18:3-9). Ada hal yang membuat kisah ini sangat pilu. Secara garis keturunan, Yefta merupakan anak sah dari Gilead. Namun Yefta diusir dengan tidak mendapatkan haknya sebagai anak Gilead, tidak pula memiliki harta warisan/pusaka dalam keluarga Gilead. Kisah ini, tentu tidak menjadi begitu sangat pilu, jika seandainya para tua-tua dapat berfikir jernih dan memiliki pertimbangan yang benar. Justru tua-tua rakyat sepakat untuk mengusir Yefta. Lengkap sudah penderitaan Yefta, lingkaran dalam dan lingkaran sekitarnya tidak menginginkan kehadirannya. Alhasil, Yefta berangkat dengan kisahnya yang pahit dan pilu. Sungguh merupakan berkat TUHAN bagi kita, bahwa dunia ini diciptanNYA tidak statis namun berputar. Dengan perputaran ini membuat kita tidak menjadi orang yang frustasi dengan keadaan kita saat ini. Tidak hari ini, tentu ada hari esok. Perputaran mencipta pengharapan baru bagi orang percaya. Keadaan gawat menimpa kota kelahiran Yefta. Tidak ada seorangpun dari kota kelahirannya yang dapat mengatasi ancaman tersebut. Tua-tua yang dulu ikut berpartisipasi mengusir, membenci, menyingkirkan dan mengucilkan Yefta, sekarang datang menghadap Yefta, yang mereka anggap sebagai anak haram. Tentu hal ini bukan hanya mengejutkan Yefta sendiri sebagai pemeran utama, juga kita sebagai pembaca. Para tua-tua memohon, agar Yefta mau “memimpin mereka.” Aneh bukan!!?? Dia yang dulu diusir bagai anjing penuh borok, sekarang diminta dan diangkat menjadi panglima serta kepala atas seluruh penduduk Gilead. Permintaan para tua-tua yang datang menghadap Yefta, akhirnya ia terima, namun dengan penuh kehati-hatian. Hal itu terlihat dari dialog yang terjadi antara Yefta dan tua-tua dari Gilead (ayat 6-10). Ada hal yang mengejutkan kita, jika kita perbandingkan ayat 3 dengan ayat 11b, disatu sisi Yefta adalah seorang kepala perampok dan disisi lain, dia merupakan orang yang ingat kepada TUHAN! Sebab dia membawa seluruh perkaranya itu ke hadapan TUHAN, di Mizpa (Hakim 11:11b). Apakah dia seperti Zorro yang melakukan perampokan, dan hasil rampokannya diberikan kepada orang duafa, atau seperti kisah Si Pitung dari Betawi, yang merampok/mencuri harta tuan-tuan tanah dan kompeni, serta membagibagikannya kepada orang miskin!? Tentu hal ini menjadi pergumulan bagi kita semua. Yang jelas bagi kita adalah, setelah diusir dari keluarga dan kampung-halamannya, dia menjadi kepala perampok. Dengan kehadiran para tua-tua Gilead, yang mengharapkan kesediaan Yefta menjadi kepala atas seluruh penduduk Gilead, dia berubah, atau dengan bahasa kita sekarang, dia bertobat dan menyerahkan segala persoalan dan pembicaraannya dengan tua-tua Gilead kepada TUHAN. Kepercayaan yang diberikan oleh tua-tua Gilead kepadanya, bukan membuat dia semakin menggila/semangat untuk merampok, melainkan dia mendekatkan diri kepada TUHAN. Dalam bahasa alkitab disebutkan: “Tetapi Yefta membawa seluruh perkaranya itu ke hadapan TUHAN, di Mizpa.” Mari kita bandingkan dengan berbagai pemimpin kita saat ini, setelah diangkat penjadi pemimpin, keahliannya dalam merampok semakin menjadi-jadi, sikat sana-sikat sini, tanpa pandang bulu lagi! Agama kadang hanya menjadi topeng yang sangat menguntungkan untuk menarik simpati. Yah, bagaikan gerombolan singa berbulu domba lah! Saudara-saudara yang dikasihi Kristus, sekarang kita memasuki minggu Judika dari tahun gereja kita. Disamping itu, kita juga menjalani dan memasuki, memperingati minggu-minggu sengsara Yesus Kristus. Tentu, kata JUDIKA, sungguh menjadi satu kata renungan bagi kita semua. Jika kita membaca Mazmur 43:1 “Berilah keadilan kepadaku, ya Allah, dan perjuangkanlah perkaraku terhadap kaum yang tidak saleh! Luputkanlah aku dari orang penipu dan orang curang!”, membuat kata JUDIKA menyatu dengan pengalaman kita sebagai orang yang disingkirkan, dikucilkan, atau diusir, tentulah karena iman dan tindakan yang benar. Bisa jadi, kita mengalami atapun memiliki pengalaman latarbelakang yang sama seperti Yefta, walapun dengan alur cerita, situasi dan tempat yang berbeda. Di satu sisi, kita tidak perlu frustrasi, sebab salah seorang pahlawan Israel yang gagah perkasa, yaitu Yefta, pernah mengalaminya. Dan jika anda masih mempunyai waktu untuk membaca Hakim 11:1-40 secara keseluruhan, kita akan melihat cerita yang begitu pilu, dari kisah hidup Yefta. Sepahit apapun pengalaman hidupnya, setelah bersama dengan TUHAN, kepahitan yang ada, tidak membuat dirinya berpaling dari TUHAN. Perjuangannya untuk memimpin Israel, tetap dia tunaikan. Saya tidak memaparkan pengalaman iman pribadi saya saat ini. Namun, dalam iman, saya melihat pengalaman itu nyata dalam karya Kristus Yesus bagi kita. Dalam perjalannanNya, dia selalu ditolak dan dipersalahkan, yang walaupun Dia tidak pernah melakukan Dosa/kesalahan. Dia diusir, dikucilkan dan disingkirkan oleh para tua-tua bahkan para tokoh agama pada masa itu, hingga berujung di Salib. Tetapi, TUHAN memberikan keadilan kepadaNYA. Salib tidak menjadi ujung/akhir segala sesuatunya. JUDIKA ada dalam perjalanan hidup Yesus Kristus. Dia yang dikucilkan, diusir, disingkirkan dan disalibkan, Dia bangkit mengalahkan sengat maut dan kematian (1Kor 15:55-58). Dia justru menjadi penyelamat kita. Dari cerita Yefta dan kehidupan Yesus Kristus Tuhan kita, tentu kita banyak menarik pengalaman hidup yang dapat kita lakukan setiap hari, yaitu jangan takut untuk hidup di jalan yang benar ataupun melakukan kehendak TUHAN. TUHAN tentu memberikan keadilan (JUDIKA) kepada orang yang hidup sesuai dengan kehendakNYA. Keadilan pasti kunjung tiba. TUHAN pasti memberi keadilan tersebut bagi kita orang yang percaya padaNya. Akhir kata: dalam persekutuan dengan Tuhan, jerih payahmu tidak sia-sia (1Kor 15:58b). TUHAN pasti memberi JUDIKA bagi kita orang percaya. Amen.tua_sibuea@yahoo.com
Yang tersingkir, Dia yang menyelamatkan.
Ditulis dalam Renungan
Apakah anda ingin populer?
Mateus 4:1-11Apakah anda ingin lebih populer???
| P |
opular! Boleh jadi, kata ini tidak asing lagi bagi kita, sebab banyak ‘perilaku, kegiatan, situasi, musisi, kepemimpinan, dll.’ dihubungkan dengan kata ini. Mari kita ambil contoh dari salah satu bidang seni, yaitu musik popular, penyanyi terpopuler, lagu populer. Atau apakah saudara pernah mendengar Deddy Corbuzer?, si pesulap yang terkenal saat ini? Dia popular bukan karena aksinya yang mengagumkan, tetapi juga oleh gayanya/model rambutnya yang begitu mengesankan!
Segala bidang tidak ketinggalan dalam mencapai popularitas ini, bahkan gereja secara tidak langsung ikut didalamnya, melakukan persaingan, sehingga ada gereja yang popular dalam pengertian paling digemari ataupun digandrungi/diminati, mengadopsi segala sesuatu. Yah, sasarannya agar popular.
Bagaimana caranya agar popular? Sebelum melangkah lebih jauh, marilah kita terlebih dahulu melihat Yesus dan zaman yang dia lalui.
Kita telah membaca nas ini, di mana Yesus dalam keadaan ‘kelaparan’, menghadapi cobaan dari si iblis. Dengan jelas disebutkan: “setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus,” (ay.2). Kelaparan atau pun ‘rasa lapar’ membuat kita berusaha untuk menghilangkan rasa lapar tersebut. Mengapa tidak berusaha? Sebab, saya pernah melihat kehidupan seorang yang ‘gila’, berusaha mengais makanan di keranjang sampah. Saya berpikir begini, “soal lapar, kemungkinan sigila ini memiliki setengah kesadaran.” Apalagi kita sebagai manusia yang normal dan benar-benar sadar, tentu akan menyelesaikan persoalan kelaparan pada diri kita dahulu, baru selanjutnya, terserah anda, itulah pesan iklan AXE. Kelaparan, bisa jadi mendorong kita untuk menghalalkan segala cara, memakai segala kemampuan yang ada dan yang tersisa. Alasannya, kan ada, yah itu dia: karena kelaparan. Lagi-lagi kambing hitamnya adalah kelaparan. Dalam situasi inilah, si iblis mulai berkarya, situasi labil membuat calon korban mudah diatasi dan diajak lebih kompromi. Selanjutnya, terjadilah pencobaan.
Dari pencobaan tersebut, tentu kita melihat, ada tiga pranata sosial yang muncul: batu dan roti, melompat dari bubungan bait ALLAH dan gunung yang tinggi. Untuk memudahkan pemahaman kita, mari kita sederhanakan situasi cobaan tersebut ke dalam tiga pranata sosial yang sama pula yaitu: ekonomi (sebagai gambaran dari roti), keagamaan (sebagai gambaran dari bait Allah) dan politik (sebagai gambaran dari gunung yang menjulang tinggi). Boleh kita lihat, pranata sosial ini merupakan pola-pola perilaku yang tetap dalam setiap zaman. Dan untuk menangkap sekilas pemahaman akan pranata tersebut, kita perlu mengenal zaman pada masa itu.
Mengubah batu menjadi roti, merupakan cobaan/langkah awal untuk meraih kesuksesan, sebab kelaparan/rasa lapar dapat mengubah dan membengkokkan pola pikir seseorang. Namun, mari kita pikirkan dan berhenti sejenak, apakah Yesus dicobai, disuruh mengubah batu menjadi roti, hanya karena Ia lapar? Secara sederhana bisa jadi, sebab laporan sebelumnya menyebutkan:… akhirnya laparlah Yesus.” Akan tetapi, jika kita teliti, makna yang lebih lengkap dari pencobaan itu terletak pada kesulitan ekonomi yang dialami/dihadapi oleh rakyat miskin Palestina. Roti melambangkan inti kehidupan materi. Sebagai pusat makanan sehari-hari, roti muncul di meja makan, dari sarapan hingga makan malam, dari minggu ke minggu. Doa Bapakami, kata-kata: “berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya,” menggambarkan kebutuhan pokok akan makanan tersebut. Melalui rasa laparNya yang harfiah, Yesus mengidentifikasikan diriNya dengan ribuan petani miskin (pekerja ladang, buruh, dll), yang setiap hari bergulat diseputar pencarian makan(an). Bisa jadi, identifikasi ini, mengingatkan Yesus akan manna Allah di Padang Gurun. Atau barangkali, Ia teringat dengan kampung halamanNya, Nazaret, yang dikuasai oleh rentenir kejam yang mengusir para petani miskin dari tanahnya akibat dari sistim pajak ganda yang menindas massa! Ia mendengar penderitaan orang-orang kusta, orang-orang buta dan miskin, diinjak-injak oleh orang-orang yang menyebut dirinya saleh dan tamak! Iblis menggoda Yesus, agar Yesus mengubah batu menjadi roti. Roti adalah jalan tercepat untuk memenangkan hati rakyat (bnd. Yoh 6:15) (kita bandingkan dengan hal yang terjadi sekarang ini, ketika dana kompensasi BBM dan dana kemiskinan dikucurkan, orang-orang dan bahkan orang Kristen berbondong-bondong menjadi memiskinkan diri, dengan jalan mendaftarkan diri ikut dalam kompensasi tersebut, bahkan ada yang marah kepada aparat desa karena tidak diikutsertakan. Ada hal yang lebih lucu lagi, akibat dari keikutsertaannya dalam kompensasi BBM ini, terjadi satu kesepakatan antar ketua adat: barang siapa yang mendapat kompensasi BBM, si orang tersebut tidak boleh marsigabegabe [memberikan dan mengucapkan berkat] di dalam adat Batak, sungguh lucu bukan!!!). Pada zaman Yesus, pada dasarnya mempunyai dua golongan kelas ekonomi: golongan atas dan golongan bawah. Kelas atas hanya 10% saja namun hidup dengan kemewahan, sedangkan sisanya 90% adalah kelas bawah, dengan keadaan cukup makan saja, miskin, papa dan serba susah. Hidup tergantung pada tuan tanah dan cuaca, selalu mengalami bahaya kelaparan, wabah, serangan perampok dan menjadi santapan perang. Kaum miskin ini, juga dipandang sebagai hama dan haram, dan kota Galilea sebagai pusat rakyat jelata. Oleh karena itu, rakyat jelata ini tenggelam hanya dalam mencari nafkah, mereka nyaris tidak mempunyai waktu untuk memperharikan hal-hal yang rinci tentang kemurnian ritus. Sebenarnya, Galilea adalah daerah pertanian yang subur dengan sebuah usaha ekspor perikanan yang besar, namun rakyatnya kebanyakan harus hidup dengan seperangkat pakaian saja (bandingkan dengan orang Batak kebanyakan: harus memakai burjer, tetapi bisa jadi karena dimiskinkan adat!!!?) Ekonomi yang berat, bisa menjadi sumber kerusuhan dan kekerasan politik. Sekilas mengenai pola hidup kaum berada, ada ritus yang harus dijalankan oleh imam (sebab kalangan imam adalah termasuk ke dalam golongan atas), pada hari pendamaian, diwajibkan bertelanjang kaki. Untuk melindungi kakinya, istri imam kepala tersebut, memasang permadani di jalan dari rumahnya hingga Bait Allah. Hal lain lagi, orang berada memberikan mas kawin sekitar satu juta dinar emas, di mana satu dinar adalah rata-rata penghasilan sehari, atau dinar emas sejumlah berat badan si wanita. Selanjutnya, Yesus akhirnya menolak pilihan untuk hidup hanya dari roti saja, di mana IA menjawab iblis dengan Ulangan 8:3. Memberi makan dengan ajaib, merupakan pemecahan masalah dengan jangka pendek. Kelaparan pasti akan terjadi lagi bersamaan dengan kematian si tukang roti ajaib itu.
Untuk melangsungkan kekuasaan yang berkelanjutan/berkesinambungan, agama juga harus dikuasai dan dihadapi. Itu sebabnya, muslihat iblis selanjutnya adalah mengundang Yesus untuk merangkul agama yang dilembagakan (Bandingkan dengan pemimpin Indonesia dalam pemilihan Presiden, para calon berusaha merangkul golongan agama). Lakukanlah ‘lompatan’ spektakuler Yesus!!, demikian harapan iblis, segalanya akan berubah. Pada zaman Yesus, praktek keagamaan sering kali kosong dan hanya melayani diri sendiri (bagaimana dengan keadaan negara kita yang katanya ‘negara beragama’ apa sudah mencerminkan hidup yang beragama??!, di mana negara kita disebut sebagai salah satu negara daftar papan atas terkorup!!!). Bait Allah sebagai puncak dari kehidupan beragama, jantung ibadah, ritus, keyakinan dan emosi Yahudi. Bait Allah menjadi lokasi perdagangan ternak untuk dijadikan kurban dan tempat tukar menukar ‘valas’, sebagai persembahan perpuluhan. Bait Allah menjadi sumber pemasukan yang besar untuk Yerusalem. Disamping kegiatan Bait Allah, satu dari para imam/ahli taurat yang diangkat menjadi ketua disebut dengan Sanhedrin (Ephorus!), juga menjadi jabatan yang sentral, sebab memiliki wewenang penuh atas hukum dan administrasi, dalam urusan keagamaan dan sipil, menjadi juru bicara dalam perundingan-perundingan politik, dan mengepalai sekitar 18.000 imam dan orang Lewi. Tentu, dengan menguasai ‘Bait Allah’ kekuasaan pasti mudah diraih. Iblis berseru, “lakukanlah Yesus, terjunlah segera, buatlah keajaiban yang tiada tara, so pasti orang-orang yang skeptis sekali pun, akan percaya kepada kewibawaanMu.” Namun Yesus bukanlah Mesias yang sok pamer dan sombong. Dia juga bukan tukang sulap yang membuat penonton berdecak kagum, seraya penonton bertepuk tangan sambil mengacungkan jempol ke atas. Yesus selanjutnya menjawab: “Don’t try to test the Lord your God!” Mari kita bandingkan dengan bangsa Israel yang baru keluar dari Mesir, mencobai Tuhan Allah, akibatnya adalah fatal (Bil 21:5 dyb; 1Kor 10:9). Orang yang mencobai Tuhan Allah sama halnya dengan orang yang melawan ketetapan Tuhan Allah (bnd. Kis 15:11-12). Cobaan kedua belum berhasil, iblis masih berusaha melalui cara yang ketiga.
Lukas melaporkan: semua kerajaan dunia, kuasa dan kemuliaannya ditawarkan kepada Yesus. Kesempatan bagi Yesus untuk menjadi seorang Alexander Agung yang baru, memiliki kesempatan untuk memegang kekuasaan politik yang tiada taranya. Pemberontakan, revolusi, demonstrasi dan kekacauan serta pajak yang menyengsarakan rakyat, tidak akan terjadi lagi. Israel akan unggul, bangkit dan berkuasa kembali tanpa tanding. Poros kekuasaan akan bergeser, dari Roma menjadi ke Yerusalem. Kaisar tidak sesuka hati menekan dan mempermalukan orang-orang Yahudi, sebab kaisar itu sendiri akan mengabdi kepada Israel. Dari puncak gunung itulah terbayang kekuasaan tanpa batas yang akan dimiliki oleh Yesus jika Ia sujud menyembah iblis. Tentu, di gunung itu pula, Yesus membayangkan rakyat negeri akan menyanyikan sambutan ‘HOSIANNA’. Namun, tawaran ini tidak berkenan bagi Yesus sebagai seorang raja hamba yang Ia rancang dalam pelayanan model mesianisnya! Ia menolak pola-pola yang berkembang pada zaman itu, yaitu turut serta melakukan kekerasan untuk melanggengkan ataupun mensukseskan suatu kekuasaan dalam memerintah orang lain. Disamping itu, gunung merupakan pelambang kuasa ilahi. Di gunung, Allah berjumpa dengan umatNya melalui Musa (Kel 24). Dalam khotbah di gunung, Yesus memaparkan kuasanya yang baru: murah hati, lemah lembut kesucian dan sebagainya (Mat 5). Dan seperti kita ketahui, para murid juga mendapat panggilan mereka di gunung (Luk 6:12-13). Dengan kata lain, gunung melambangkan kekuatan kuasa ilahi dan dekatnya Allah (lih. Mak 6:46; 9:2,7; Mat 21:1; 28:16; Luk 22:39; Kis 1:8,12).
Sekarang, kita kembali kepada pertanyaan di atas, bagaimana caranya agar popular! Pada saat ini banyak metode yang dipakai, agar seseorang itu popular. Agar seseorang itu popular, dia harus berusaha ‘jilat sana dan jilat sini’ (walau lidahnya sampai lecet, yah ngak apa-apa), pola ‘angkat telor dan model ABS’ menguasai mental seseorang. Agar popular, banyak kalangan pada saat ini, berusaha pindah agama, di samping memperbaiki karir, itulah katanya. Ada lagi, agar popular, seseorang tersebut mengadakan ‘kontrak kerja dengan iblis’ (hidup dengan guna-guna, dan ada yang lebih parah lagi, rela mengorbankan/menumbalkan anak untuk setan), dan hal ini menjadi hal yang lumrah pada zaman ini. Adalagi model lain, yaitu dengan menjalankan ‘amplop’ berisi, atau mengumbar janji-janji manis/isapan jempol belaka. Tentu, kita sebagai pembaca, masih banyak mengetahui cara agar popular, sesuai dengan pola zaman ini, atau sesuai dengan pola iblis.
Namun kita melihat Yesus, menciptakan popularitasNya, Yesus tidak berpaling dan mengikuti bahkan menyembah iblis. Yesus tetap mengikuti perintah TUHAN Allah. Akhir kata, Lukas 9:25 menyebutkan “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?(//Mat 16:26//Mk 8:36)” Apakah gunanya popularitas, jika kita pada akhirnya hanya merugikan diri kita sendiri!!! Aha!!!! Kita boleh mencari kepopuleran, tetapi semuanya itu hanya untuk kemuliaan TUHAN semata. Tetapi jika anda tetap berusaha mencari kepopuleran, hanya untuk kepentingan pribadi, itu terserah anda, tetapi awas…, bahaya…., anda pasti rugi. Iyakan!!! Itu sama halnya dengan menarik uang dan membelanjakannya hanya untuk tujuan yang sia-sia saja!!!! Oleh karena itu, kalau tahu rugi, mulai sekarang lebih baik tarik diri!!! Dan selanjutnya, ikutilah teladan Yesus Kristus Tuhan kita. Amen!
Horas.
e-Mail: tua_sibuea@yahoo.com
Ditulis dalam Renungan
Hello world!
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!
Ditulis dalam Uncategorized